Wednesday, June 29, 2011

Kecerdasan Spiritual

KECERDASAN SPIRITUAL
DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Hakimuddin Humam, S.Pd.I
(Guru PP. Ihyaul Islam Bolo Ujungpangkah Gresik)

Dalam pandangan Islam ketinggian tingkat spiritual tidak semata-mata dilihat dari proses pemaknaan, melainkan terdapat suatu proses yang terus menerus yang disebut sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan pengendalian hawa nafsu (mujahadah). Tujuan akhirnya atau puncak spiritualitasnya adalah keridhaan dan cinta ilahi untuk dapat ma’rifat kepada Allah.  Dengan kajian ini peneliti lebih berharap bahwa kecerdasan spiritual dapat lebih mampu memberi kontribusi dalam kehidupan beragama, khususnya bagi umat Islam.
Dari latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan permasalahan penelitian  sebagai berikut: (1) Bagimanakah pemikiran  Danah Zohar dan Ian Marshall tentang kecerdasan spiritual? (2) Bagaimana konsep kecerdasan spiritual  Danah Zohar dan Ian Marshall ditinjau dari perspektif pendidikan agama  Islam?
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Mendeskripsikan pokok-pokok pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang  kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam. (2) Mendeskripsikan konsep kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshall ditinjau dari perspektif pendidikan agama Islam. Kegunaan penelitian ini adalah (1) Temuan berupa deskripsi pokok-pokok pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshall tentang  kecerdasan spiritual dalam perspektif Islam merupakan upaya selektif terhadap konsep kecerdasan spiritual, terutama jika dipraktikkan dalam kehidupan beragama.  (2) Temuan berupa deskripsikan konsep kecerdasan spiritual menurut Danah Zohar dan Ian Marshall ditinjau dari perspektif pendidikan agama Islam akan memiliki kontribusi bagi pemerhati kependidikan Islam  dalam kegiatan merancang kegiatan pembelajaran  agama Islam agar tidak sebatas pengetahuan verbal dan kognitif, tetapi lebih mengarah kepada pengayaan pengalaman ruhaniyah.
Penelitian ini didasari oleh teori  filosofis Islam tentang manusia. Visi fiolosofis tersebut adalah manusia adalah makhluk Allah yang memiliki potensi spiritual. Al-Qur’an menggambarkan struktur manusia yang terdiri dari : ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs) dan jasad atau tubuh (al-jism). Dengan struktur yang demikian itu manusia mempunyai potensi-potensi spiritual untuk menjalin hubungan dengan Tuhannya, melalui peningkatan dan penyempurnaan.
Metode Penelitian dijalankan dengan pendekatan kulitatif. Penelitian ini tergolong juga penelitian leteratur sebab sumber datanya dari bahan pustaka. Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitik.
 Dari analisis yang telah dilakukan diperoleh simpulan. (1) Pemikiran Danah Zohar dan Ian Marshal tentang kecerdasan spiritual  pada dasarnya adalah proses penyingkapan hakikat manusia, khususnya  dalam aspek immaterialnya atau ruhaniahnya. Dimensi ruhaniyah inilah yang seringkali membuat bingung untuk dipahami karena rancunya istilah-istilah yang digunakan. Hakikat manusia pada dasarnya adalah jiwanya (an-nafs) yang memiliki berbagai potensi yang tersebut dalam berbagai istilah,yaitu al-‘aql, al-qalb, as-sadr, al-fu’ad, al-lubb. Jiwalah yang menjadi target pendidikan, sehingga ia tidak hancur oleh kematian, karena ia akan memasuki dunia lain untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di dunia. Al-Nafs manusia berada pada keadaan ‘ di antara’, yaitu diantara ar-ruh yang berfungsi sebagai utusan Allah dalam diri manusia dan al-jism, sehingga ia merupakan manifestasi dari dua entitas tersebut. Untuk dapat menjalankan misi yang telah ditetapkan Allah kepadanya, an-nafs harus ditrasformasikan keatas agar kembali dekat dengan Allah. Dari transformasi inilah muncul berbagai macam relasi yang menimbulkan kecerdasan. Kecerdasan ini bukan di otak, melainkan kemampuan yang dimiliki oleh jiwa yang telah ditransformasi otak hanya merupakan aparatus semata. Hakikat kecerdasan pada dasarnya adalah manifestasi dari transformasi an-nafs. (2) Konsep kecerdasan spiritual didasarkan pada pandangan Danah Zohar dan Ian Marshall dalam perspektif pendidikan Islam menyebutkan bahwa spiritualitas  yang dikonsepkannya bukan masuk wilayah immaterial (alam al-malakut) tetapi masih terkait pada aspek material, yaitu alam al-khalq.   Dalam perspektif pendidikan  Islam kecerdasan merupakan produk dari transformasi al-nafs (jiwa) dari satu tingkat ke tingkat lainnya  baik menarik maupun menurun, karena jiwa adalah subyek yang sadar dan berpengetahuan, sedangkan jasad dengan seluruh organnya adalah kendaraan atau aparatus jiwa semata. Al-Nafs yang menaik mendekati Tuhannya, sedangkan yang turun akan mengalami kejatuhan karena lebih mendekati jasad yang mati. Demikian halnya dengan kecerdasan spiritual, sebagai kecerdasan yang melalui proses psikologis ketiga (tersier), ia dapat dipadankan dengan transformasi jiwa ketika berada pada level ketiga, yaitu level al-nafs al mulhamah yang berada di latifah al qalb. Kecerdasan spiritual hampir mendekati dengan kecerdasan al-qalb. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah landasannya masing-masing. Spiritualitas Islam berlandaskan pada entitas al-nafs yang immaterial tetapi menyatu dengan manusia.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment